Kolaborasi Ciamik “Director-Composer” (Part 1)


Apapun genre-nya, hampir semua film memerlukan sebuah musik untuk menguatkan tema ceritanya. Musik yang dimaksud di sini bukanlah suatu lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi tertentu, tapi lebih menuju ke suatu instrumen dari segala alat musik. Istilahnya adalah score.

Seperti yang saya bilang di atas, hampir semua film pasti memerlukan score. Saya katakan ‘hampir’ karena memang tidak semua film ber-score. Contohnya saja Quarantine dan seri Paranormal Activity. Tanpa score saja, film-film itu sudah cukup mengerikan bukan. Bagaimana jika ditambah score ya? Hmmm…

Well, back to the topic. Dari sejumlah film yang pernah saya tonton, saya amati ada beberapa sutradara yang tetap mengandalkan seorang composer tertentu untuk mengisi score di tiap filmnya. Dan menurut saya, it totally works and sometimes it becomes their special trademark. Ini adalah beberapa list mereka.

1. Darren Aronofsky-Clint Mansell

Sejak  film pertama Aronofsky yang berjudul π (baca: Pi) hingga Black Swan, Clint Mansell selalu menjadi komposer tetap pengisi score. Kombinasi keduanya menurut saya sangat sangat sangat sangat klop:)))). Aronofsky merupakan tipikal sutradara yang memiliki style yang berani dan berseni tinggi. Hampir semua karakter utama dalam filmnya memiliki obsesi yang kuat terhadap sesuatu hal. Karakter itu tercipta begitu kuat.

Aronofsky lebih sering menggunakan hand camera. Ia kadang mengaitkan kamera ke tubuh pemainnya supaya dapat menangkap gambar kemanapun sang tokoh bergerak (istilahnya yaitu Snorricam). Ia juga suka men-shoot tiap tokohnya melalui bagian belakang (punggung). Yang pasti, lulusan Hardvard University ini bukanlah tipe sutradara  yang menyukai ‘ketenangan’. Hampir semua filmnya selalu ‘mobile’.

 

Clint Mansell

Karakter Aronofsky itu memang sangat cocok dengan tipikal score Mansell. Manssell mengkombinasikan antara musik orchestra dengan instrumen elektronik. Ia adalah komposer yang menurut saya tidak terlalu sering menyuguhkan nada-nada ’ketenangan’ atau melankolis. Musiknya sangat menghentak, bersemangat, bahkan kadang misterius dan menakutkan. Saya lebih suka menyebutnya ‘klimaks’ dan ‘antiklimaks’. Saya amat menikmati sajian klimaks pada tiga film Aronofsky, yaitu Requiem for A Dream, The Fountain, dan Black Swan. Score  Mansell sangat menyatu dengan klimaks tersebut. That is very awesome. Begitu halnya dengan adegan sesudahnya (antiklimaks). Khusus untuk film The Wrestler, saya tidak terlalu begitu menangkap score khas Mansell. Mungkin karena saya terlalu menikmati script-nya dan juga akting yang menyentuh dari Micke Rourke.

Sayangnya, hingga sampai saat ini, komposer berusia 49 tahun ini belum pernah mendapatkan nominasi Academy Awards untuk hasil kolaborasinya dengan Aronofsky. Prestasi terbaiknya adalah meraih nominasi Golden Globe untuk score The Fountain. Requiem for A Dream dan The Fountain menurut saya setidaknya berhak akan nominasi untuk best original score untuk piala Oscar. Score Requiem for A Dream begitu mengerikan. Sama mengerikannya dengan nasib akhir semua karakternya. Sementara score The Fountain begitu indah, elegan, dan memukau.

Untuk Black Swan, saya sedikit menyesalkan keputusan juri Academy Award yang mengeluarkan Mansell dari nominasi best original score. Tapi setelah dipikir lagi, memang itu juga tidak salah. Untuk film Black Swan, Mansell mengadaptasi score dari Tchaikovsky (“Swan Lake” ballet) dan memperbaruinya. That wasn’t original anymore, but somehow I like it very much.

            So, I’ll wait for your next collaboration, guys. I hope Golden Globe and Academy Awards Jury will regard it, but If they won’t, I’m still your huge fans that will appreciate your works. 

PS: Dan sampai saat ini, saya belum melihat film pertama Aronofsky, yaitu π (1998) -_-. So, let me know if you have it🙂

2. Alejandro González Iñárritu -Gustavo Santaolalla

Mr. Iñárritu is one of my most favorite director. Saya sudah menonton semua film yang telah dia buat sejauh ini, yaitu Amores Perros, 21 Grams, Babel, dan Biutiful. Yang paling berkesan dalam setiap hasil karyanya adalah bahwa saya selalu merenung sejenak setelah film itu berakhir.

Topik film yang dibawakan sesungguhnya amat sederhana. Mengenai realita sosial dalam masyarakat. Kadang ada perasaan prihatin, empati, bahkan terharu. Bagi saya filmnya adalah sebuah kejujuran. Saya tidak akan membahas satu per satu filmnya di sini. Insya Allah kalau ada waktu akan saya bahas semua film tersebut secara mendalam.

Gustavo Santaolalla

Realita Iñárritu ini begitu menyatu dengan instrumen Santaolalla. Saya memang tidak terlalu paham benar soal musik, tapi menurut kedua telinga saya, score Santaolla lebih mengandalkan instrumen alat musik petik (sejenis gitar atau harpa) dan alunan piano sebagai penyerta. Nadanya sederhana sekali, namun begitu cocok dengan tiap topik film Iñárritu.

Gustavo Santaolalla

Sejauh ini, Komposer Argentina ini telah mendapatkan pencapaian prestasi yang luar biasa. Ia pernah mendapatkan piala Oscar secara berturutan (2006-2007) melalui film kontroversial The Brokeback Mountain dan Babel.

 3. Sam Mendes-Thomas Newman

Nama Sam Mendes mulai diperhitungkan sebagai salah satu director kelas atas taktala film garapannya American Beauty (1999) menjadi buah bibir di tengah masyarakat Hollywood. Film itu akhirnya berhasil menyabet 5 piala Oscar termasuk untuk kategori bergengsi best picture dan best director. Film-film selajutnya pun tak kalah suksesnya, seperti Road to Perdition (2002), Jarhead (2005), Revolutionary Road (2008), dan Away We Go (2009). Menonton film Mendes memberikan kesan tersendiri bagi saya. Filmnya begitu……’rapi’.

Saya sendiri bingung harus mendeskripsikannya dengan pilihan kata apa. Tapi ya itulah, filmnya memang rapi. Rapi dari segi alur, jalan cerita, setting sehingga mudah dimengerti dan nyaman untuk ditonton.

Thomas Newman

Mantan suami Kate Winslet ini memiliki langganan komposer tetap untuk semua filmnya, yaitu Thomas Newman (Kecuali untuk film Away We Go yang score-nya diisi oleh Alexi Murdoch).

Newman merupakan tipikal komposer yang mengandalkan piano sebagai instrumen utamanya. Ia kadang menambahkan alat musik perkusi (sejenis marimba dan chimes) untuk menambah corak musiknya (see’ American Beauty’). Ritme alunan instrumen Newman begitu pelan dan tenang. Sangat cocok dengan karakter Mendes yang ‘rapi’ dan tidak terburu-buru.

Thomas Newman

Film prestisus terbaru Mendes yang merupakan seri terbaru James Bond, Skyfall (2012), juga menggunakan Newman sebagai komposernya.

Tahukan Anda bahwa Newman merupakan komposer yang telah mendapatkan 10 (Sepuluh) kali nominasi piala Oscar, namun belum sekalipun ia menang. Sepuluh nominasi itu kala ia mengisi score untuk film: The Shawshank Redemption (1994), Little Women (1994), Unstrung Heroes (1995), American Beauty (1999), Road to Perdition (2002), Finding Nemo (2003), Lemony Snicket’s A Series of Unfortunate Events (2004), The Good German (2006), dan WALL·E (2008). Di WALL·E, Newman selain mendapat nominasi untuk score, ia juga mendapatkan nominasi sebagai musik terbaik untuk lagu Down to Earth yang dibawakan penyanyi spesialis soundtrack, Peter Gabriel.

Semoga beruntung di tahun mendatang:))

 4. Joe Wright-Dario Marionelli

Joe Wright merupakan salah satu sutradara muda yang menurut saya jenius. Film Pride and Prejudice (2005) adalah buktinya. Meski hanya mendapatkan 4 nominasi piala Oscar, film itu adalah batu loncatan untuk filmnya selanjutnya, yaitu Atonement (2007). Atonement menurut saya merupakan salah satu film terbaik sampai kapan pun.

Saya begitu tekejut mendengar hasil pengumuman Academy Award tahun 2008. Atonement kala itu mendapatkan 7 nominasi, termasuk film terbaik. Hasilnya, film ini hanya memenangkan 1 piala Oscar saja, yaitu untuk kategori best original score. Padahal film ini sukses menggondol gelar film terbaik di ajang BAFTA dan Golden Globe Award. Mengapa tidak di piala Oscar??? Film ini dipecundangi dengan sukses oleh No Country for Old Men garapan Joel dan Ethan Coen. Saya memang fans Coen Brothers’ film. Film mereka memang bagus. Tapi saya merasa sutradara lain siapapun itu bisa membuat film serupa seperti No Country for Old Men, tapi untuk Atonement, hmm..saya yakin tidak ada sutradara yang bisa menyamai kepiawaian dan kejeniusan Joe Wright. Nasib Atonement sama persis seperti Babel (2006). Mendapatkan gelar film terbaik di Golden Globe dan 7 nominasi piala Oscar, Babel harus tunduk oleh film garapan sutradara senior Martin Scorsese, The Departed. Babel kala itu juga hanya mendapatkan 1 piala Oscar lewat kategori best original score.

Dario Marianelli

Kembali ke topik. Wright menggunakan jasa Dario Marianelli di 3 filmnya, yaitu Pride and Prejudice, Atonement, dan The Soloist. Namun tidak untuk film terakhirnya, Hanna. Hanna merupakan film action pertama Wright dan score-nya diisi oleh The Chemical Brothers. Namun untuk film terbarunya di tahun ini, Anna Karenina, Joe Wright kembali menggandeng Marianelli sebagai komposernya.

Kolaborasi Wright dan Marianelli terbaik tentu saja ada di film Atonement. Unsur instrumen yang dibawakan sangat kreatif. Belum pernah terpikirkan oleh komposer lain yang menggarap film serupa dengan tema tahun 70-80an. Marianelli menggunakan instrumen dasar berupa mesin tik. Suara mesin tik ini berpadu dengan instrumen piano dan menghasilkan score yang berbeda dan yang pasti belum pernah anda dengarkan sebelumnya. Suara mesin tik tersebut berdetak begitu mantap mengiringi jiwa Briony, salah satu tokoh sentral dalam film ini.

(To be continued….)

 

–HW–

Special Quotes:

“Losing makes you strong. I like being the underdog.”

~Thomas Newman, About 8 nominations and 0 wins at the Oscars

Leave a Reply :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s