A Separation: Best Screenplay Since Good Will Hunting


Review:

Beruntung perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran hanya berlangsung dalam dunia politik saja. Setidaknya tidak menular ke dunia perfilman. Pada awalnya, saya pesimis bahwa film ini akan memenangkan piala Oscar tahun ini. Sebagai catatan, film ini mendapatkan dua nominasi, yaitu best original screenplay dan best foreign language film. Para juri yang sebagian besar berkewarganegaraan Amerika pasti akan cenderung mem-vote film dari negara lain untuk kategori best foreign language film. Setidaknya, itulah prasangka buruk yang terbersit dalam benak saya. Begitu pula dengan kategori best original screenplay, Woody Allen bisa dipastikan bakal meraihnya lewat Midnight In Paris.

Ternyata dugaan saya tidak sepenuhnya benar. Skenario terbaik memang diraih Woody Allen. Namun untuk kategori film berbahasa asing terbaik ternyata bisa diraih Iran. Prasangka saya akan adanya diskriminasi juri terhadap film Iran tidak terbukti.

A Separation merupakan film kedua Iran yang masuk nominasi Oscar setelah Bacheha-Ye aseman a.k.a Children of Heaven (1997) dan film pertama Iran yang memenangkan penghargaan tertinggi di dunia perfilman itu.

Dari beberapa film yang dinominasikan sebagai film berbahasa asing terbaik, saya baru melihat dua film saja, yaitu Rundskop a.k.a Bull Head dari Belgia dan A Separation. Saya sudah membahas sedikit tentang film Rundskop di artikel sebelumnya. Jika dibandingkan dengan A Separation, Rundskop memang sedikit lebih rumit dan kompleks dalam segi cerita dan alur. Ide cerita Rundskop juga tidak biasa. Saya tidak akan membahasnya lagi lebih jauh. Kesempatan ini akan saya gunakan untuk mereview tentang A Separation.

Film yang disutradari oleh Ashgar Farhadi ini sesungguhnya sangat sederhana. Ini tentang konflik antara suami istri dalam kehidupan berumah tangga. Tema cerita yang sangat umum bukan? Sering kita jumpai dalam kehidupan nyata sehari-hari. Hanya ini berbeda. Karena konflik ini ber-setting di Iran dengan latar belakang politik yang sedang bergejolak dan kehidupan religius yang kental.

Secara keseluruhan, kekuatan film ini memang terletak pada skenarionya. Pantas saja juri Oscar terkesan dan memasukkan film ini sebagai salah satu nominasi skenario terbaik. Jarang sekali dijumpai film berbahasa asing bersaing dengan film-film Hollywood dalam jajaran nominasi skenario terbaik.

Skenario film ini memang memukau. Sederhana, namun meaningful. Kultur dan kehidupan religius di Iran dapat digambarkan dengan khas.  Dialog mengalir natural dan kuat. Adu argumen antar karakter terucap dengan cerdas. Semua memiliki dasar masing-masing. Sulit mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Persis seperti persidangan kasus korupsi wisma atlet antara Angelina Sondakh dan Mindo Rosalina Manulang:).

Skenario seperti ini mengingatkan saya akan Good Will Hunting (Gus Van Sant, 1997). Salah satu film yang menurut saya memiliki skenario terbaik sejauh ini. Ben Affleck dan Matt Damon mendapatkan ganjaran Oscar untuk pertama kalinya sebagai penulis naskah.

Kekuatan lain dalam film ini terletak pada para pemainnya. Hampir keseluruhan pemain mampu berakting total dan natural, termasuk para aktris ciliknya. Btw, jika dilihat-lihat, Leila Hatami mirip seperti Nicole Kidman hehee….

Salut kepada Asgar Farhadi. Sutradara sekaligus penulis film ini. Setelah ini, saya pasti akan memburu film-film yang telah ia kerjakan sebelumnya dan yang akan datang.

Sinopsis:

Diceritakan Simin (Leila Hatami) adalah seorang istri yang ingin menggugat cerai suaminya, Nader (Peyman Moadi), seorang banker. Namun hakim tidak bisa mengajukan permohonan tersebut. Hakim berpendapat bahwa alasan Simin menggugat cerai Nader tidak kuat. Nader bukanlah suami yang gemar melakukan tindakan kriminal, kdrt, atau tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani istrinya.

Simin ingin pindah ke luar negeri meninggalkan Iran. Simin berdalih bahwa kehidupan di negaranya sudah tidak kondusif lagi. Ia tidak ingin anak perempuannya yang masih berusia 11 tahun, Termeh (Sarina Farhadi), tumbuh di lingkungan yang tidak mendukung. Simin bahkan telah mengurus pasprt dan visa.

Nader tidak setuju dengan rencana istrinya. Ia lebih senang tinggal di Iran. Ia juga tidak bisa meninggalkan ayahnya sendirian. Ayah Nader didiagnosis menderita penyakit Alzheimer. Suatu penyakit yang banyak diderita oleh lansia yang mengakibatkan kehilangan memori. Ia bahkan lupa kalau Nader adalah anaknya. Namun Nader tidak peduli. Ia sangat menyayangi ayahnya. Ia tetap merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Simin keberatan dengan sikap Nader yang lebih mementingkan ayahnya dibandingkan anak semata wayangnya. Oleh sebab itu, ia mengajukan gugatan cerai. Hakim tetap tidak mau mengabulkan keinginan Simin.

Karena tuntutannya tidak dikabulkan, Simin memutuskan untuk meninggalkan rumahnya dan tinggal bersama orang tuanya. Sementara Termeh tetap tinggal bersama ayah dan kakeknya.

Di sinilah konflik mulai terjadi. Karena tidak ada lagi yang merawat ayahnya, sementara Nader harus bekerja dan Termeh harus sekolah, maka Nader terpaksa harus mempekerjakan seorang pembantu untuk merawatnya.

Nader akhirnya mempekerjakan seorang wanita religius bernama Razieh (Sareh Bayat). Razieh saat itu tengah hamil, namun ia belum memberi tahu suaminya, Hodjat (Shahab Hosseini). Hodjat tercatat memiliki hutang yang banyak dan saat ini ia pengangguran. Oleh sebab itu, Razieh menerima tawaran pekerjaan itu untuk membantu suaminya melunasi hutang. Ia tidak ingin suaminya tahu kalau ia sedang hamil.

Setiap hari, Razieh bekerja merawat ayah Nader dengan membawa anaknya yang berusia 6 tahun, Somayeh (Kimia Hosseini). Suatu saat, ayah Nader keluar dari rumah tanpa sepengatahuan Razieh. Razieh khawatir dan panik setengah mati. Dengan rasa cemas, ia mencari ayah Nader di jalan.

Keesokan harinya, saat Nader dan Termeh pulang, mereka kaget melihat ayah Nader dengan kondisi tangan terikat di tempat tidur dalam keadaan lemas. Mereka tidak melihat Razieh ada di rumah saat itu. Nader juga mendapatkan beberapa uangnya hilang. Saat Razieh dan Somayeh kembali, Nader menuduh Razieh pencuri dan langsung mengusirnya dari rumah. Razieh tidak terima. Ia bersumpah kalau dirinya tidak mencuri. Razieh malah menuntut upahnya hari itu segera dibayar. Karena jengkel, Nader mendorong Razieh dari pintu depan rumahnya. Razieh lalu terjerembab.

Esoknya, Nader dituntut Razieh dan suaminya atas tindakan kekerasan yang telah mengakibatkan janin Razieh keguguran.

Bagaimana sikap Nader terhadap tuntutan itu? Apakah ia justru akan menuntut balik Razieh karena perlakuannya terhadap ayahnya? Apa benar Razieh keguguran karena tindakan yang telah dilakukan Nader? Apa tindakan Simin saat mengetahui bahwa suaminya sedang dalam masalah? Saksikan sendiri ya kawan. Ada garis tipis perbedaan antara perbuatan baik dan buruk yang tergambar dalam film ini.

Judul : A Separation

Judul asli : Jodaeiye Nader az Simin

Tagline : 1. Ugly truth, sweet lies. 2. Lies may lead to truth.

Sutradara : Ashgar Farhadi

Penulis : Ashgar Farhadi

Durasi :  2 jam

–HW (8.4/10)–

Quote Choice:

Nader (to Simin): “Don’t you ever think why you wanna leave this country? ‘Cause every time you face a trouble, you give in. Rather than confront it.”

Leave a Reply :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s