Kita Vs Korupsi: Indonesia, Lekaslah Bangun dari Tidur Berkepanjangan!!


https://filmrecord.wordpress.com

Saya sudah lupa kapan terakhir kali saya sangat menikmati film Indonesia. Maksud kata ‘menikmati’ itu benar-benar terhipnotis masuk ke dalam semua aspek penting dalam sebuah film, baik itu tema cerita, penyutradaraan, eksekusi skrip, dan akting pemainnya.

Malam itu (3/11/13), entah kenapa saya memutuskan untuk menonton film Indonesia. Jenis film yang jarang saya tengok. Mungkin bisa dibilang kalau film dalam negeri adalah film terakhir yang akan saya lihat bila stok film lain sudah habis. Dan entah kenapa dari beberapa film Indonesia yang ada, saya memilih film “Kita Vs Korupsi” (KVK). Tidak terdengar seperti sebuah judul yang komersil, bukan? Bahkan saya tidak yakin kalau film dengan judul seperti ini bakal bertahan sampai tiga hari di bioskop.

Tanpa ada ekspektasi apapun, saya mulai menontonnya.

Setelah beberapa saat, saya baru tahu bahwa ini memang bukan film komersil melainkan hanya sebuah film edukasi atau penyuluhan yang diputar terbatas hanya di beberapa kota melalui roadshow. Sayang sekali. Begitulah perasaan saya setelah selesai menonton film ini. Padahal film ini memiliki kualitas diatas rata-rata film Indonesia.

Oke, sudah cukup basa-basinya. Mari kita bahas lebih detail. Meski agak terlambat karena ini dirilis tahun 2012, saya tidak peduli. Bagi saya, film dengan kapasitas high quality, kapanpun tahun pembuatannya tetap akan menjadi suatu warisan yang berharga untuk setiap generasi.

KVK merupakan film omnibus yang terdiri dari empat cerita pendek yang ada di sekitar kita atau bahkan kita sendiri pun mungkin pernah mengalaminya.

Segmen pertama: “Rumah Perkara”

https://filmrecord.wordpress.com

Sutradara: Emil Heradi

Penulis: Mohamad Ariansyah & Damas Cendikia

Pemain: Teuku Rifnu Wikana, Ranggani Puspandya

Bagian pembuka film ini bercerita tentang Yatna (Teuku Rifnu Wikana), seorang lurah suatu desa yang dihadapkan pada sebuah dilema. Ia sedang kalut diantara dua pilihan, yaitu menerima proyek besar seorang kontraktor yang berarti ia harus menggusur semua pemukiman warganya sendiri atau menolaknya yang berarti ia akan kehilangan uang komisi dalam jumlah besar. Keputusan yang ia buat tidak hanya berpengaruh kepada warga yang ia pimpin, melainkan juga keluarga dan kehidupan pribadinya.

Segmen pertama ini berhasil mengesankan saya. Mereka tahu benar bahwa bagian pembuka begitu penting untuk mendapatkan dan mempertahankan perhatian penonton untuk segmen berikutnya. Dari keempat segmen cerita, bagian pertama inilah yang mempunyai sisi teknik yang paling berkualitas, termasuk sinematografi dan score.

“Tidak ada yang lain yang saya inginkan kecuali melihat seluruh warga desa itu sejahtera..Itu janji saya. Demi Allah….saya BERJANJI!”

~ Yatna

Segmen kedua: “Aku Padamu”

https://filmrecord.wordpress.com

Sutradara: Lasja F. Susatyo

Penulis: Sinar Ayu Massie

Pemain: Revalina S. Temat, Nicholas Saputra, Ringgo Agus Rahman

Revalina dan Nicholas Saputra berperan sebagai Laras dan Vano, sepasang kekasih yang berniat kawin lari. Saat sampai di Kantor Urusan Agama (KUA), pernikahan mereka terkendala karena tidak adanya Kartu Keluarga. Datanglah seorang calo yang menawarkan ‘jalan pintas’. Vano setuju karena ingin segera menikahi Laras, sebaliknya dengan Laras. Jalan pintas yang ditawarkan bertolak belakang dengan idealisme yang ia dapat dari seorang guru semasa SD dulu, Pak Markun (Ringgo Agus Rahman).

Alih-alih disampaikan dengan serius seperti segmen pertama, “Aku Padamu” justru sebaliknya. Mengambil sudut pandang pasangan muda, bagian kedua dari omnibus ini begitu ringan, menghibur, mudah dicerna, namun tidak kehilangan pesan moral yang ingin disampaikan sedikit pun.

Diantara keempat cerita, meski dari segi teknik terkesan lemah, namun bagian inilah yang menurut saya memiliki script yang cemerlang. Meski tidak mendapat porsi sebanyak Nicholas-Revalina, akting Ringgo Agus Rahman mampu mencuri perhatian. Ekspresi yang dipancarkan efektif dan efisien. Chemistry Nicholas-Revalina lumayan klop meski tidak sememukau saat Nicholas berpasangan dengan..you know lah.

“Ketika kamu nanti mengalah, menyerah untuk jujur, maka hari itu akan menangis, seperti apa menangisnya? Hujan turun, halilintar nanti akan tertawa, gledek di mana-mana…duarrrr..duarrr sampai akhirnya akan membuat hati kecil kamu itu porak poranda..sampai tidak terdengar suaranya..HENING….”

~ Pak Markun

Segmen Ketiga: “Selamat Siang, Risa!”

https://filmrecord.wordpress.com

Sutradara: Ine Febriyanti

Penulis: Ine Febriyanti & Gunawan Raharja

Pemain: Tora Sudiro, Dominuque Diyose, Medina Kamil, Verdy Solaiman

Mengambil setting era tahun 70-an, segmen ketiga menilik kehidupan Arwoko (Tora Sudiro), seorang mandor gudang yang mempunyai prinsip menjunjung kejujuran diatas segalanya meski banyak teman sejawat yang berlaku sebaliknya. Prinsip hidupnya mendapatkan ujian berat saat ia mendapat tawaran uang pelicin dalam jumlah besar untuk menggunakan gudangnya sebagai tempat penimbunan beras tepat pada saat Arwoko sangat memerlukan uang untuk biaya pengobatan anaknya. Mampukah Arwoko mempertahankan prinsipnya? Lalu, siapa Risa yang tersebut dalam judul segmen ini? Lihat sendiri ya ;d.

Tidak diragukan lagi, inilah segmen terbaik sekaligus favorit saya. Akting Tora Sudiro dan Dominique Diyose membuat hati saya bergetar (lebay memang, tapi iya). Their performance really makes me speechless and almost cries at the same time. Hal yang belum pernah sekalipun saya alami saat menonton film INDONESIA.

Bravo Ine Febriyanti. Hanya satu complain: soundtrack di akhir adegan seharusnya diselesaikan hingga tuntas. Karena selain nice song, lagu itu pas sekali dengan tema cerita.

“Semua kembali dari asal..darimana kita..bagaimana kita berasal..kebaikan lahir dari kebaikan sebelumnya..hal yang mungkin absurd di jaman ini..tapi minimal MASIH ada yang mampu bertahan”

~Risa

Segmen keempat: “Psssttt…Jangan Bilang Siapa-Siapa”

https://filmrecord.wordpress.com

Sutradara: Chairun Nissa

Penulis: Jazzy Mariska Usman

Pemain: Alexandra Natasha, Siska Selvi Dawsen, Nasma Abigail

Mengambil sudut pandang pelajar SMA, segmen terakhir ini bercerita tentang kehidupan sekolah tiga pelajar yang berteman akrab. Berawal dari Gita (Alexandra Natasha) yang penasaran mengapa harga buku pelajaran yang dibeli Ola (Siska Selvi Dawsen) dari Eci (Nasma Abigail) jauh lebih mahal daripada yang dijual di toko. Gita lalu menggali lebih dalam asal muasal kenaikan harga buku tersebut. Tanpa disangka-sangka, pembicaraan tersebut justru malah menguak praktek korupsi beruntun yang dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

Inilah tema cerita yang hampir pasti semua orang yang pernah bersekolah pasti mengalaminya. Disampaikan dengan gaya penceritaan yang ringan dan khas ala remaja yang ceplas-ceplos asal bicara, segemen ini berhasil membuat saya tersenyum sendiri kala menontonnya. Karena selain pernah mengalami hal yang sama saat di sekolah, karakter Gita ini begitu persis dengan saya. Bila ia memerlukan waktu 1 tahun untuk membeli sebuah handycam, saya masih perlu waktu bertahun-tahun hanya untuk membeli suatu kamera digital. Namun itu bukan masalah, selama uang yang dipakai halal.

“Kok mereka MERASA BENER  ya??? Hmmm…menurut kalian…siapa yang salah??”

~Gita

Secara keseluruhan, film omnibus ini sangat memuaskan. Pada zaman dimana banyak orang menghalalkan segala cara, karakter utama dari tiap segmen bagaikan sebuah oase di tengah gurun pasir yang luas. Begitu pula film ini sendiri. Saat mayoritas film Indonesia menonjolkan sisi budaya barat dengan hedonisme dan pergaulan bebasnya, film ini justru menggebrak dengan kerasnya.

Bebas dari Korupsi

Sayang memang bila film ini tidak dikomersilkan. Itu artinya film ini tidak mendapatkan perhatian masyarakat sebanyak film komersil. Padahal pesan moral yang disampaikan sangatlah berharga, terutama untuk generasi pemuda penerus bangsa ini. Jangan sampai kita (saya juga masih muda=) terbawa arus masif budaya korupsi yang sudah berduplikasi menjadi berbagai macam bentuk dan bereplikasi di setiap aliran pembuluh darah dan gyrus otak manusia.

Satu hal lagi. Anda tidak akan mendapatkan akting Ringgo dan Tora dalam peran serius seperti ini. Meski peran komedilah yang paling sering kita lihat dari keduanya, ternyata mereka juga sangat piawai membawakan karakter serius dengan begitu dramatis.

O ya, saya ingat sekarang. Tiga tahun yang lalu, Minggu Pagi di Victoria Park karya Lola Amaria. Itulah terakhir kali saya begitu menikmati film karya sineas Indonesia.

 

–HW (8.5/10)–

 

 

Judul: Kita Vs Korupsi

Tanggal Rilis: 26 Januaru 2012

Durasi: 70 menit

Produser: Busyro Muqoddas, Juhanni Grossmann, Teten Masduki, M. Abduh Aziz

Studio: Cangkir Kopi/Komisi Pemberantasan Korupsi/Management System International/USAID

 

 

 

 

Leave a Reply :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s